Kamis, 16 Juni 2011

Perubahan

El dan Kampus UMN

Kelas KB1 - Komisi Anak, GKI Gadser

Mereka hari ini, tidak akan sama dengan mereka 10 tahun atau bahkan hanya dalam kurun waktu 1 bulan lagi. Karena anak-anak berkembang dengan pesat. Cara mereka menyerap informasi dari lingkungan sekitar lalu mengadopsinya sebagai bagian dari proses pembentukan jati diri mereka, sangat cepat. Mereka sungguh karya Sang Pencipta yang luar biasa.

Sampai dengan bulan lalu. Putri kami, Ell, belum mempunyai pose foto seperti itu. Paling banter ala cute girl seperti yang ia contoh dari Majalah Princess (contoh: kedua tangan memegang rok, kedua telunjuk disentuhkan pada pipi). Ekspresi lebih dewasa di atas, kurang tau persis darimana datangnya...:
Bulan lalu dia masih kepayahan saat dihadapkan dengan operasi perkalian pada Pelajaran Matematika, berusaha menghapal pun tidak mau. Pagi hari menjelang tes, dia bawa daftar perkalian dan dibacanya di mobil dalam perjalanan ke sekolah. Syukur Puji Tuhan, jika beberapa ada yang nyantol sewaktu tes....:

Demikian juga halnya dengan anak-anak Sekolah Minggu yang kami layani di gereja kami. Pada awal-awal tahun ajaran baru kemarin masih diwarnai dengan tangisan dan para orang tua atau pengasuh yang menunggu di kelas. Bulan demi bulan berjalan, sungguh indah perubahan yang terjadi. Eurike (bukan nama sebenarnya), sudah tidak perlu ditunggui Mama/Papanya lagi. Dengan penuh percaya diri ia masuk ke kelas, memilih bangku, dan duduk tenang hingga kebaktian anak selesai (sebagai gantinya, dibawanya dari rumah 'dede boneka'). Begitu juga halnya dengan Matias, Kewi, Glee (bukan nama sebenarnya) dan beberapa anak lain, mengalami perubahan yang sama.

Yang pernah menjadi catatan, dan selalu tim kami ingat, adalah 'kunci' dalam menilai anak atau seseorang seperti yang diungkapkan oleh Pendiri dan Direktur Sekolah Athalia, Dr. Charlotte Priatna: "Jangan membandingkan anak (atau seseorang) dengan anak lainnya, tetapi bandingkanlah ia dengan bagaimana ia sebelumnya."

Rabu, 15 Juni 2011

Padang Seribu Kupu-kupu

Pagar kayu favorit tempat aku biasa bersandar di siang hari terasa beda kali ini. Lebih kuat dan kokoh dari biasanya. Atau mungkin, akunya yang sedang rapuh, sambil mengeluh dalam hati dan mendesah dalam-dalam. Dalam waktu singkat, tiba-tiba semua akan kutinggalkan, kawasan tempat tinggal ini. Pembicaraan antara Bapa dan Paman sudah final: kami, semua, akan bermigrasi, segera, saat angin Barat Laut tiba, dalam beberapa hari mendatang. Tempat mereka tinggal memang sudah semakin memburuk. Pepohonan semakin sedikit ditemukan, kolam dengan padang rumputnya yang menyenangkan itu bahkan sudah lenyap. Astaga, yang kami temukan adalah dinding, tembok, dan dinding lagi, yang menghalangi keleluasaan pergerakan kami. Tinggal dinding bersahabat yang satu ini, tempatku sering berlindung dari udara panas menyengat. Yang ditingkahi dengan suara celoteh bocah dari dalam rumah, serta denting piano Oma Kasih, sang pemilik.

Tanpa kusadari, dalam hitungan detik, keluhanku lenyap. Aku mendapati diriku sekarang sedang berada di kawasan baru itu. Berputar mengelilingi pohon demi pohon, main petak umpet bersama adik-adikku di antara bunga-bunganya yang tersohor, yang pastinya juga menjanjikan makanan berlimpah untuk kami. Bergosip dan bercanda dengan para sahabat di rerumputannya. Ah, kehidupan kaum kami akan pulih kembali seperti semula.

Ups, aku hampir terjatuh… Yaah, jadi itu tadi mimpi.

Baiklah. Aku akan mempersiapkan diriku. Bapa dan Paman semalam bersahutan menderetkan nasehat ini, “Kamu memang yang tercantik, Lyn, tapi tidak berarti kamu harus lemah.” “Bukan hanya Padang Seribu Bunga itu yang akan menyelamatkan kita, tapi juga Lembah Kabut, Setapak Panjang dan Kolam Batu.” “Ancaman kepunahan harus dihindari." "Habitat yang tepat harus kita miliki, karena itu tempat untuk menghasilkan generasi-generasi unggul.” "Kita harus menyelamatkan telur-telur ibumu, Nak. Mereka adik-adikmu.” “Jika habitat seperti itu belum pernah kaumiliki, jadikan itu tujuanmu.” “Kekuatan yang dihasilkan oleh kesulitan, akan menambah keunggulanmu.” Uuh, kenapa sih mereka berdua ini kompak sekali. Bisa berkata-kata apa lagi aku, kalau sudah begini ceritanya.

Bunga ilalang yang biasa kugunakan untuk menyisir buku-bulu halus pada sayapku, kini kuganti dengan sebatang ranting. Karena kami akan melewati kabut tebal, diperlukan hentakan kepak sayap yang kuat. Warna-warna terang kutambahkan di sana-sini, agar lebih mudah terlihat oleh regu yunior yang aku pimpin. Bagaimana dengan penglihatanku sendiri? Oh, dengan apakah harus kutambahkan bantuan pada mata fasetku ini.. Kacamata kabut?? Seandainya tersedia di optik terdekat….:

Setapak Panjang terkenal dengan reptil-reptil pemangsa. Kami harus sungguh berhati-hati sekaligus tangguh. Jika kami lelah lalu beristirahat lalu menjadi lengah, habislah riwayat kami. Jadi perjalanan itu harus ditempuh dengan: tanpa istirahat. Bayangkan, pfff….

Lain lagi halnya dengan Kolam Batu. Di situ ada kaum-kaum kerabat dekat kami, namun kurang begitu ramah. Kaum Lepidoptera memang kurang disenangi dalam pertalian kekerabatan berkaki enam ini, yang memang harus diakui: adalah yang tercantik. Sebut saja kaum-kaum lain itu, dan bandingkan dengan kami. Hymenoptera, yang kerjaannya mendengung sepanjang hari, atau si sayap tipis bermata bola itu-rasanya kok kurang simetris. Atau Diptera yang kurang disukai, karena identik dengan penyebar kuman penyakit bagi bangsa manusia. Hmm...(renungan melankolik): kesalahan kamikah jikalau alam semesta berbaik hati menghadirkan kami dengan keelokan tersendiri seperti ini. Huh...(kebangkitan kolerik), ini sih cuma masalah mental. Tidak ada terapi apapun yang tepat untuk menghadapi masalah sosio-emosional, kecuali: menghadapinya.

.....beberapa waktu kemudian

Ternyata, sungguh, ckckck, mereka berdua memang bukan beriklan, ini nyata. Kugosok-gosokkan sekali lagi mata yang memandang seraya tak percaya ini. Jangan-jangan ini fatamorgana dari cuaca panas, atau akibat kelelahan.

Tidak, bukan. Hebat, sungguh-sungguh tempat ini luar biafsa.

"Sudah sampai adik-adik...., akhirnya perjalanan panjang kita selesai!!"

Lalu, sambil memandang jenaka pada Bapak dan Ibuku, Paman dan Bibi, lalu saudara-saudara lainnya, aku yakin, tempat ini, dalam waktu relatif singkat, perlu mengganti namanya.

(Peringatan: ini hanyalah kisah imajinatif belaka. Persamaan karakter atau jalan cerita sangat jauh dari unsur kesengajaan. :)


Sabtu, 30 April 2011

Ice Castles


Film ini adalah
remake dari film berjudul sama, produksi tahun 1978.
Keduanya disutradarai oleh Donald Wyre.

Remake
-nya sendiri beredar tahun 2010, dibintangi oleh Taylor Firth (Alexi Winston) dan Rob Mayes (Nick Peterson).


Petunjuk: baca 'Peringatan' terlebih dahulu sebelum membaca kisah di bawah ini.

Peringatan: jangan membaca kisah di bawah ini sebelum menonton tayangan berikut.



Seorang bintang ice skating yang menari dengan begitu indah dan mengagumkan, terpeleset di arena yang sama - yang telah bertabur bunga kesuksesannya.
Karena dia menari, meluncur dan melompat dengan menggunakan feeling-nya.
Karena selama ini ia berlatih pada arena yang kosong dan bersih.
Karena dia buta, Saudara-saudara.

Beberapa waktu sebelumnya, Alexis (Lexi) Winston sangat sehat, memenangkan kejuaraan regional dengan cemerlang, dan bersiap mengikuti kejuaraan nasional. Tapi sungguh siapa yang bakal mengira, jika di tengah reputasinya yang sedang meroket, penonton yang mencintai dan mengelu-elukannya, pers yang memburunya, media yang mengorbitkannya sebagai selebritis baru, dia justru dilanda kekalutan. Nick Peterson, pacarnya yang juga seorang ice hockey player, baru saja memutuskannya (karena melihatnya begitu antusias mencium pelatihnya seusai pertandingan). Pelatihnya, yang ia pikir cukup sayang dan peduli padanya, ternyata hanya peduli pada kariernya. Di hadapannya kini membentang kehampaan, bukannya masa depan gemilang seperti yang diharapkannya semula. Medali emas itu tak mampu membuatnya tersenyum, apalagi bahagia.
Saat berlangsungnya pesta menyambut kesuksesannya, ia merasa jengah. Danau beku di luar yang terlihat dari jendela, terasa sangat mengundangnya. Diambilnyalah sepatunya, dan meluncur di danau tersebut. Luncurannya masih terlihat indah di tengah kegalauannya, tapi ternyata lompatannya gagal. Ia terjatuh, dan cedera gegar otak yang cukup serius, yang berakibat pada kebutaan.
Mendekam dan mengurung diri di kamar seperti ini, adalah akhir kisah hidupku, begitu pikir Lexi. Ayah tercintanya berusaha menghibur dan membangkitkan kembali semangatnya, juga bibinya. Tapi tak seorangpun berhasil mengusir kegelapan itu, dari cahaya hatinya yang padam. Bukan karena kegelapan indera penglihatnya.

Hingga kemudian, cahaya itu datang.
Dan ternyata cahaya seperti inilah yang paling ia butuhkan,
untuk membantunya 'melihat' dan kembali pada jati dirinya.

Nick datang. Memperkenalkan kembali, membantunya mengingat-ingat: danau beku dekat rumah, tempat Lexi biasa berlatih sejak kecil, juga tempat mereka berdua biasa menghabiskan waktu skating mereka.
Langkah kecil takut-takut berubah menjadi sebuah luncuran, lalu putaran. Dan ternyata, tidak membutuhkan waktu yang lama, sang bintang telah siap kembali ke arena, dengan Nick sebagai professional dan personal trainer-nya.
Benar-benar profesional dilihat dari caranya mengukurkan lebar ice rink, melatih Lexi 'melihat' posisi pagar pembatas - sehingga Lexi mengetahui sejauh mana ia dapat bergerak dengan aman.
Pelatih sebelumnya, Aiden Reynolds, pasti tak akan terpikir cara-cara seperti ini (hanya judgement penonton:). Tetapi suatu fakta (ironis) adalah bahwa pelatih Aiden bahkan tak mengijinkan Lexi berimprovisasi saat bertanding, harus sesuai program pelatihan katanya.

Setelah menyaksikan film ini, tepatlah kata demi kata yang dipilih untuk merangkai lagu tema film ini: 'Looking Through The Eyes of Love'.

Penasaran? Liat n dengerin sendiri aja de.........

Senin, 14 Februari 2011

14 Februari 2011







Coklat2 hand made-ku....
cantik n keren kan

Senin, 07 Februari 2011

The Same Way (sung by Philip Bailey)


The Same Way (You've Always Been)

Oh, I can't explain this love in you I found
you're the power from above but all you do is love
and you even parted seas to free the bound
you, then you died on the cross for me
with your love you rose again just like way back then
you are the same way you've always been

And when people needed healing you were there
all it took was faith to make their life complete
and it didn't matter what the problem was
you were always ready to give your love
it didn't matter where, it didn't matter when
you are the same way you've always been

You always shine healing hearts, mending minds
and it's the same way you've always been

And now millions have received this love divine
our bodies have been healed, our souls have been redeemed
all the stars above proclaim your majesty
to you all the birds of the air do sing
you are 'the great I am'
and yet my closest friend
you are the same way you've always been

Minggu, 04 April 2010

Paskah 2010


Siapakah dia itu sebenarnya? Tokoh Paskah ini?

Ayahnya tukang kayu, ibunya masih perawan ketika melahirkannya
Kok bisa?
Karena kehamilan itu adalah atas kuasa dari atas, sehingga anak itu berbeda, dia kudus
Apa yg mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Penguasa semesta

Apakah yang ia kerjakan selama hidupnya?


Hidup sebagai manusia biasa, membantu pekerjaan ayahnya, hingga usia 30th
Kemudian dia mengajar (guru), memberitahu apa yang akan terjadi (nabi), menyembuhkan orang dari berbagai penyakit dan cacat (pembuat mujizat)
Jika selama hidupnya memang baik, kenapa dia harus mati, bahkan matinya dibunuh bagaikan penjahat?
Apa yang ia ajarkan, memang berbeda dengan para guru agama Yahudi pada waktu itu.
Ketika pengikutnya bertambah banyak, guru2 agama itu tidak menyukai hal ini, karena reputasi mereka terancam, sehingga mereka bermufakat untuk mencari cara dan fitnah untuk mengadukannya ke pengadilan Roma sebagai pemberontak (waktu itu Yahudi termasuk dalam jajahan kerajaan Romawi).

Apakah yang diajarkan agama Yahudi? (detil, ritual, untuk dilaksanakan oleh anggota tubuh)
kitab Taurat Musa beserta tambahan ajaran-ajaran detil bagaimana sesorang harus menjalani hidupnya.

Apakah yang ia ajarkan? (prinsip, hakiki, untuk dilaksanakan terlebih dahulu oleh hati manusia)
1) mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi
2) mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Di manakah perbedaan kedua ajaran tersebut?
Contoh :
1) yang diinginkan Tuhan adalah hati yang menyesal karena dosa, yang ditekankan guru2 agama itu adalah hitungan-timbangan-ukuran yang tepat untuk persembahan korban (jenis persembahan/pemberian untuk Tuhan pada jaman itu)
2) aturan untuk tidak bekerja pada hari Sabat tidak lebih penting dibanding jika ada sesama yang membutuhkan pertolongan apapun bentuknya.

Apakah dia hanya seorang guru dan nabi?
Tidak, karena kelahirannya yang kudus, berasal dari kuasa yang dari atas, dia adalah Allah juga
dan semua mujizat yang dilakukannya, membuktikan kuasanya lebih dari manusia.

Mengapa Allah harus menjadi manusia?
Karena selain mengajar, bernubuat, melakukan mujizat, tujuan utamanya di dunia adalah untuk menebus dosa.
Mengapa manusia harus ditebus dosanya? Karena semua manusia telah berdosa, dosa artinya bersalah, kesalahan berarti menerima hukuman. kalau dibiarkan, semua orang akan binasa, dalam hukuman kekal.
Jadi bagaimana mengatasi masalah dosa ini?
Allah punya cara, cari seseorang untuk menerima hukuman, dia sebagai penebus, atau pengganti semua manusia yang akan dihukum itu.
Seseorang itu haruslah : seorang manusia, karena yg ditebus juga manusia, harus setara nilainya.
Tapi seseorang itu juga harus lebih dari manusia, karena dia harus mewakili 'semua umat manusia'.
Maka keputusan Allah :
"karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga dikaruniakanNya AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal".

Mengapa Anak itu harus lahir dari bangsa Yahudi?
Bagaimanapun, Allah mesti memilih salah satu dari bangsa-bangsa di dunia ini, untuk menjadi kewarganegaraan AnakNya. Abraham adalah orang yang saleh dalam pandangan Allah. Dan dia terpilih untuk melahirkan penebus yang telah dirancangkan itu.

Mengapa Allah memilih jaman Romawi untuk melaksakan rencanaNya ini?
Romawi adalah bangsa yang mendunia, dapat dikatakan, apa yang terjadi dalam kerajaan ini, akan tersiar ke seluruh dunia (karena misi Allah adalah untuk seluruh dunia).
Dan yang tak kalah penting, Romawi memiliki cara yang paling brutal dalam menghukum pemberontak2nya, salib. Dengan salib ini, seseorang akan dibuat menderita kesakitan, menemui ajalnya secara perlahan-lahan, dan ini dijadikan tontonan publik, untuk menjadi pelajaran buat yang lainnya. Anak Allah yang menjadi manusia itu harus menggantikan kita yang seharusnya dihukum, dengan cara menjalani hukuman yang paling keji, disalib.

Saat disalib, Dia memberikan nyawaNya. Saat bangkit, Dia berkuasa mengambil nyawaNya kembali. Setelah bangkit, Dia masih menemui murid-muridNya, makan bersama mereka, dan juga tampil di muka umum. Hal ini dicatat oleh beberapa orang saksi.

40 hari setelah Ia bangkit, Ia naik ke sorga
sekarang Dia duduk di sebelah kanan Bapa yang di Sorga
menyediakan tempat di sana, bagi semua yang percaya kepadaNya

Luar biasa bukan? Pastinya!
Selamat Paskah!


Sabtu, 27 Februari 2010

my bEllen....

hmmm....sedap rasanya saat-saat seperti ini : pagi hari bersama my toast, susu dan laptop.
saat yang lain masih terlelap, serangkaian kata-kata sudah menari-nari di kepalaku, siap untuk dikoreografikan.
yang kurang cuma 1, suara pantai di luar, ahh....itu terlalu sempurna!

Kali ini aku mau dedikasikan tulisanku untuk putriku, Gracelyn Stephanie Adi, yang panggilannya Ellen, yang sangat addicted to Ariel, tapi mulai melirik untuk mencoba menjadi Belle.
Rasanya, cerita tentang dirinya yang sudah-sudah kok berat melulu, makanya sekarang giliran aku mau apresiasi dirinya.
Sebenarnya pujian dari orang-orang lainlah yang meng-encourage diriku, untuk melihat dan menyadari beberapa sisi positif yang kini melekat pada dirinya.

Umurnya saat ini 8 tahun, tapi sejak 5 tahun : makan sudah tidak perlu disuapi, mandi sendiri, membereskan baju-baju kotornya sendiri setelah mandi, pakai baju dan dandan pun sendiri. Awal-awal sih sempat dilema juga, karena pemilihan baju atasan dan bawahannya suka tidak matching, juga pakai jepitnya asal-asalan, ngga rapi. Tapi jangan coba-coba berusaha membetulkan, bisa marah dia. Jadi ya sudah deh, tengsin-tengsin muka tembok antar dia ke sekolah. Dalam hati dibangga-banggain, toh ini kreasi dia sendiri lho....
Tapi sekarang sudah 8 tahun. Wow....dia sudah tahu banget matchingin baju-baju yang mau dia pakai, variasi cara dia pakai jepit rambut pun ok. Kayaknya, aku dulu ngga gitu deh.
Itu soal rutinitas dan penampilan.

Sekarang tentang perangai.
Dari kecil memang sudah ditanamkan untuk tidak pelit, berbagi apa yang dia punya. It works.... Kalo ada teman atau saudara datang, dia akan cari-cari sesuatu untuk diberikan. Atau berencana untuk memberikan sesuatu kalau mereka nanti datang. Kadang malah harus aku rem supaya tidak berlebihan.
such a sweet of her.....
Kalau ada tamu-tamu, dia juga dengan senang hati menyambut dan beramah-tamah. Hanya sayang memang kendala komunikasilah yang membatasi kelancaran hal tersebut.

Soal kecerdasan, hmmm, jangan tanya deh, saat dia masih harus bergelut dengan pelajaran Bahasa Indonesia, PKN (yang banyak kosa kata barunya), dia sudah melejit sendiri dengan Matematika. Kalau saatnya test, Mat yang paling aku ngga takutin, dan ga belajar lagi di rumah. Bukannya mau nyombong sih, tapi yang ingin kutekankan adalah bahwa kendala atau keterlambatan kemampuan komunikasinya ternyata tidak menghambat kecerdasan yang ia miliki. Dan pastinya aku bersyukur untuk itu, dan berterima kasih sekali kepada sekolah yang mau menampung dia, sehingga kekurangan anak akan 1 hal tidak memadamkan untuk diasah potensinya yang lain.

Dia punya adik cowok yang baru 2 tahunan. Kakak ini cukup galak kalau adiknya mulai aneh-aneh (biasalah, 2 tahun, cowok lagi, berantakin sesuatu untuk eksperimen). Kalau adiknya sudah tidak mau kusuapi lagi, si kakak yang lanjutin nyuapin, hehe...., lumayan aku punya asisten kecil.

Aku ingat papanya dulu pernah bilang gini (waktu umur 3 tahunanlah, waktu kesulitannya masih besar, waktu potensinya masih terlihat sebagai sinar redup), "kalo anak ini tidak ada kekurangannya, dia itu terlalu sempurna". Berkaca-kaca aku mendengarnya.
Betul, yang boleh sempurna hanyalah Tuhan, dan rencanaNya, itu pasti!!

Ini saat dia lagi berpose gaya Belle.
Oya, waktu kutanya kenapa kok dia sekarang jadi suka Belle, padahal dulu Ariel banget. Alasannya gini katanya : Ariel rambutnya merah, jelek.
Nah, Belle kan coklat, tanyaku?
Coklat dan hitam sama katanya, nda papa. Ok ... :)
Terus ditambahin lagi, baju Ariel tidak ada, malu, kalo Belle bagus. Hihihi.... good girl! Bravo my bEllen....

Rabu, 06 Januari 2010

Libur akhir tahun

Saat yang kutunggu-tunggu.......
Akan melancong ke manakah kami tahun ini?

Hari H tiba, tanpa ada perencanaan baru yang menyemangatiku.....
Yahhh, kayaknya, bakalan full time mudik nih liburan......tak ada tempat baru, petualangan baru.
Dan memang begitulah.......
Sampai liburan selesai, ternyata aku masih menikmati udara Soloku yang permai itu......(menyemangati diri sendiri :)

Tapi, aku selalu berusaha melihat sisi positif dari setiap hal, termasuk dari kekecewaan.

Libur mudik kali ini, setidaknya menjadi istimewa karena aku bisa ngumpul lagi dengan teman-teman lama (SD). Thanks to fesbuk pastinya.
Terus kedua anakku sudah besar, jadi aku tak terlalu repot lagi. Mereka sudah bisa main sendiri dengan sepupu mereka, juga menikmati waktu-waktu dengan kakek-neneknya. Untuk hal ini, aku sadar musti mengalah. Mungkin saja liburan yang seru bagiku, tidak bagi mereka. Mungkin mereka malah lebih suka dengan liburan kumpul keluarga seperti ini.
Juga bagi papa mereka. Yang sudah berlelah-lelah kerja dan jadi kepala keluarga selama ini, pasti relaksasi yang nyaman buat dia untuk sekali-kali jadi 'anak mami' lagi. Dipenuhi semua keinginannya (cat. tanpa omelan dan minta2 tolong dari mami yang di rumah selama ini......."piess hub!!" ;)
Dan satu lagi catatan istimewa bagiku adalah, kali ini, putri kami yang menentukan sendiri acara liburannya..... Sebenarnya dia hanya nyontek dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, lalu menyaring apa yang paling dia suka, yaitu 1) main ke pantai; 2) main seluncuran soft play di Alfa Mart (hhhh...simpel banget); 3) flying fox. Kami hargai keinginan Ellen ini, dan berusaha memenuhinya semua. Dia tidak minta yang aneh-aneh, hanya yang paling berkesan dan disukai dari pengalaman yang dipunyainya selama ini.
Selain itu, pastinya juga ada catatan-catatan khusus bagiku di liburan ini. Pengalaman berinteraksi adalah yang paling berharga buat aku.
Jadi kesimpulannya, semuanya sudah mendapat oleh-oleh liburan yang menyenangkan..... Thanks to my hometown, cerah mataharinya, udara bersihnya, kehangatan orang-orangnya, dan kulinernya..... selalu mengundang tuk datang kembali kurasa.........

Rabu, 28 Oktober 2009

Berkas cahaya

Entah kenapa, aku suka banget dengan salah satu efek dari cahaya, yaitu jika ia jatuh dengan kemiringan tertentu pada satu bidang datar, terlebih setelah melewati bidang lain yang tembus cahaya, yaitu misalnya kaca. Mungkin definisi itu tidak tepat secara fisika, embuhlah, pokoknya aku sebut saja cahaya yang jatuh miring itu : berkas cahaya.
Selama ini, aku bukan tipe orang yang suka bangun pagi. Jadi saat tiba-tiba terbangun di pagi hari yang masih gelap, pemandangan di ruang tengah (di rumah) menurutku sangat menawan. Cahaya dari luar (lampu jalan) masuk melewati 4 buah jendela tinggi di dinding samping ruang tengah, lalu berkasnya jatuh di lantai. Juga berkas yang dari jendela kecil di depan. Ditambah lagi cahaya kuning di atas tangga yang jatuh menyinari lantai kayu tangga, membuat tangga jadi berkilau. Wow....lantai ruang tengah yang biasa pun jadi terlihat istimewa dan seluruh ruangan pun jadi terasa istimewa.
Efek cahaya......seberkas cahaya.
Pengalaman lain adalah sewaktu berlibur dengan keluarga di Anyer, tepatnya saat kami berenang di Marbella Hotel. Hotel itu walau terbilang sudah lama, memang cantik, berarsitektur Spanyol. Lantai dibuat bergradasi beberapa level. Taman dan kolam renang berada sangat di bawah, sehingga resto di teras sebelah atasnya mempunyai pemandangan terbuka yang cukup luas : ke depan : terhampar pantai dan laut, ke bawah : taman dan kolam. Jadi posisi teras ini memang bagus. Sore itu aku berkesempatan bolak-balik melewati teras itu karena harus mengambil perlengkapan anak-anak dari mobil, ada saja yang ketinggalan. Sore itu langit berawan, matahari pun tak terlihat, jadi sepertinya tidak bisa mengharapkan suguhan keindahan sunset di pantai. Jadi aku mondar-mandir dari parkiran-lobby-teras-tangga-kolam dengan begitu saja, sampai tiba-tiba, saatnya matahari sudah mau berpamit pulang, dia menerobos ruang terbuka kolam dan sinarnya jatuh ke lantai teras itu dengan meninggalkan berkasnya yang berkilauan, lantai pun mendadak jadi gemilang, dan teras itu tidak terlihat sama lagi seperti sebelumnya. Cuma 1 kata, kerrenn.........

Selasa, 27 Oktober 2009

Save the Last Dance = ballet + hiphop

Balet, tarian klasik berkelas, dari abad Renaisans, yang berbasis pada gerakan lentur, lembut tapi kuat, rapi dan tertata. Dengan musik orkestranya yang anggun megah, sesuai untuk mengiringi gerakan-gerakan tersebut.
Hip hop, tarian yang lahir di era pasca modern, dari kalangan muda daerah kumuh Bronx-New York. Gerakan yang full enerjik, warnanya adalah kekuatan, tanpa aturan tertentu, yang keluar bisa apa aja : ada breakdance-nya, flash dance, bahkan tap dance, termasuk akrobat. Hiphop lahir dari hidup yang sulit, jiwa yang berontak, yang ingin eksis dan diakui. Warna musiknya pun sama, tanpa keteraturan, meluncur mengikuti irama jiwa, keras, kuat, dinamis, enerjik, tapi bukan suatu kekerasan, bukan penghancuran.
Apa jadinya jika kedua aliran gerakan tari ini dipadukan? Menarik.

Save the Last Dance, terdiri dari dua sekuel. Dengan topik yang sama, hanya bintang dan penyajian yang berbeda.
Sekuel yang kedua benar-benar dibintangi seorang balerina (Isabella Miko), yang lahir di era hiphop. Bercerita tentang seorang gadis remaja yang sudah mengantongi cita-cita menjadi seorang balerina sejak lahir, karena hasrat keluarga, terutama impian sang ibu. Dengan bakatnya yang cemerlang dan usaha yang kuat, maka peluang kemudian terbuka bagi Sara Johnson untuk menggapai impiannya, dengan lolosnya audisi ke Juilliard School of Arts. Kehidupan New York yang gemerlap, karir yang cemerlang, terbentang di depan mata. Tinggal kerja keras, disiplin dan konsistensi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan segalanya. Namun hiphop juga sudah memasuki jiwanya, karena anak muda manakah yang tidak terkena virus wabah ini? Jadi petualangannya di New York, mempertemukan antara impian balerinanya, dengan gelora hiphopnya. Sehingga ketika akhirnya tiba di persimpangan jalan, Sara Johnson pun memutuskan, bahwa dia tidak bisa melakukan sesuatu tanpa hati, tanpa jiwa. Panggung balet tidak memberinya jawaban atas panggilan jiwanya, dan dia rela meninggalkan impian dan masa depan yang sudah seumur hidup dirintisnya, dan memilih untuk menentukan jalannya sendiri, dengan menjadi koreografer tari, yang melahirkan paduan kedua aliran tersebut.

Pengabaian terhadap suara hati adalah suatu pengingkaran. Sara Johnson tidak berani mengambil resiko tersebut, karena resikonya adalah : kehilangan kebahagiaan.

watch this video, this dance is absolutely great!
http://www.youtube.com/watch?v=-BHotdWOMKg